SELEKSI SNMPTN DITENTUKAN PRESTASI ALUMNI

Ada warning dari para rektor perguruan tinggi negeri (PTN) kepada SMA dan SMK. Jangan pernah me-mark up nilai rapor saat mengisi pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS). Sebab, hal itu tidak akan berpengaruh pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN).

Warning tersebut disampaikan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Prof Triyogi Yuwono pada forum rektor se-Jawa Timur di gedung fakultas matematika dan IPA (MIPA) Selasa (27/1). Menurut dia, merekayasa nilai rapor saat mengisi PDSS akan sia-sia. Berdasar kasus yang terjadi di ITS, nilai rapor antarsekolah tidak pernah dibandingkan. ’’Ini yang ingin kami imbau kepada seluruh sekolah,’’ ujarnya.

Triyogi menyatakan, pertimbangan ITS menerima mahasiswa baru melalui SNM PTN adalah prestasi alumni sekolah yang kuliah di ITS. Beberapa hal menjadi penilaian, yakni adalah indeks prestasi kumulatif (IPK) alumni, akreditasi SMA/SMK, dan ujian nasional (unas) tahun lalu. Dari situ, setiap sekolah mendapatkan nilai dan ranking. Pemeringkatan itu akan menentukan kuota siswa yang akan diberikan kepada sekolah. ’’Misalnya, sekolah A mendapatkan kuota 50. Siswa yang masuk peringkat 50 besar di sekolah itu bisa masuk ITS. Jadi, setiap sekolah sudah dapat jatah sendiri-sendiri,’’ katanya.

Triyogi menjelaskan, kebijakan tersebut juga berlaku hampir di seluruh PTN. Dengan begitu, katrol-mengatrol nilai rapor akan percuma. Sebab, persaingan tersebut terjadi justru di internal sekolah. Dengan demikian, strategi sekolah untuk memilih jurusan yang seharusnya lebih diperhatikan. ’’Beberapa pertimbangan lainnya, prestasi siswa juga bisa masuk dalam penilaian sekolah maupun siswa pribadi,’’ terangnya.

Tahun ini, lanjut dia, sangat mungkin unas juga tidak menjadi patokan dalam SNM PTN. Berbeda dengan tahun lalu, ITS masih memakai nilai unas sebagai pertimbangan penilaian SNM PTN dengan persentase kecil, yakni 5–10 persen. ’’Yang penting lulus sekolah. Nilai unas tidak berpengaruh,’’ tambahnya.

Hal senada disampaikan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Warsono. Dia menjelaskan, saat ini SNM PTN berbasis pada ranking sekolah. Tiap-tiap sekolah memiliki ranking berdasar penilaian prestasi alumninya. Dengan begitu, sekolah abal-abal tidak bisa masuk ranking. ’’Jadi, mark up nilai rapor itu tidak berpengaruh. Yang berpengaruh adalah ranking sekolah untuk menentukan kuota siswa yang diterima PTN,’’ terangnya.

Warsono menuturkan, ada beberapa sekolah yang masuk daftar hitam pada PTN. Sekolah tersebut di-blacklist lantaran diketahui pernah melakukan kecurangan saat unas. Hal itu menjadi catatan-catatan PTN yang akan dipertimbangkan saat SNM PTN. Tujuannya, menjadikan karakter sekolah lebih baik. ’’Pokoknya, ada yang masuk blacklist. Jumlahnya berapa, kami tidak bisa sebutkan,’’ tambahnya.

Menurut dia, pelaksanaan SNM PTN tahun ini hampir sama dengan tahun lalu. Hanya, tiap-tiap karakter prodi memiliki tingkatan berbeda-beda. Karena itu, para pelajar harus pintar memilih prodi. Setidaknya, para pelajar harus sering membuka kuota prodi. ’’Jangan sampai memilih prodi yang sama dengan teman sekolahnya,’’ ujarnya. (ayu/c17/oni)

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *